FLOWCHART / BAGAN ALIR PENDIRIAN KOPERASI
Tata Cara Pendirian Koperasi berdasarkan Peraturan Menteri
Koperasi dan UKM RI Nomor
10/Per/M.KUKM/IX/2015 tentang Kelembagaan Koperasi :
TATA CARA MENDIRIKAN KOPERASI
1. Sekelompok
orang yang akan membentuk koperasi
wajib memahami:
a. pengertian, nilai dan prinsip
koperasi;
b. azas kekeluargaan;
c. prinsip badan
hukum; dan
d. prinsip modal sendiri
atau ekuitas.
2. Pembentukan
koperasi harus memenuhi
syarat sebagai
berikut:
a. Koperasi Primer dibentuk dan didirikan oleh paling sedikit
20 (dua puluh) orang yang mempunyai kegiatan dan kepentingan ekonomi yang sama;
b. Pendiri Koperasi Primer sebagaimana dimaksud pada huruf a adalah warga negara
Indonesia, mampu melakukan perbuatan hukum dan memiliki kegiatan ekonomi yang
sama;
c. Nama
koperasi
terdiri dari paling sedikit 3
(tiga) kata;
3. Melaksanakan kegiatan usaha yang langsung memberi manfaat secara ekonomis kepada
anggota;
4. Mengelompokkan usaha koperasi menjadi usaha utama, usaha pendukung dan usaha
tambahan yang dicantumkan
dalam anggaran dasar;
5. Para pendiri menyetorkan modal sendiri yang terdiri dari simpanan pokok dan simpanan
wajib sebagai modal awal untuk melaksanakan kegiatan usaha yang jumlahnya sesuai
kebutuhan yang diputuskan oleh
rapat pendirian koperasi.
6. Para pendiri wajib mengadakan rapat persiapan pembentukan koperasi yang membahas
semua
hal yang berkaitan
dengan :
a. Rencana
pembentukan
koperasi
b. nama koperasi;
c. rancangan
anggaran dasar
koperasi;
d. usaha koperasi;
e. besarnya simpanan pokok dan simpanan wajib sebagi modal awal;
f. pemilihan
pengurus; dan
g. pemilihan pengawas.
7. Dalam rapat persiapan pembentukan koperasi
dilakukan
penyuluhan
koperasi terlebih dahulu
oleh penyuluh perkoperasian
baik dari instansi pemerintah maupun dari non
pemerintah.
8. Dalam rapat pembentukan koperasi sebagaimana dimaksud dapat dihadiri oleh Notaris
yang terdaftar di
Kementerian Koperasi
dan Usaha Kecil dan Menengah.
9. Notaris sebagaimana dimaksud mencatat pokok–pokok hasil pembahasan yang
disepakatidalam rapat pendirian
untuk dirumuskan dalam
akta
pendirian.
10. Rapat pembentukan koperasi primer dihadiri oleh sekurang-kurangnya 20 (dua puluh)
orang pendiri,
11. Rapat pembentukan koperasi sebagaimana dipimpin oleh seorang atau beberapa orang yang ditunjuk oleh para pendiri.
12. Rapat pembentukan
sebagaimana menetapkan
anggaran dasar
koperasi.
13. Anggaran
dasar
14. memuat sekurang-kurangnya:
a. daftar nama
pendiri;
b. nama
dan
tempat kedudukan;
c. jenis koperasi;
d. maksud
dan tujuan;
e. jangka waktu berdirinya;
f. keanggotaan;
g. jumlah setoran
simpanan pokok dan simpanan
wajib sebagai modal
awal;
h. permodalan;
i. rapat anggota;
j. pengurus;
k. pengawas;
l. pengelolaan dan pengendalian;
m. bidang usaha;
n. pembagian
sisa hasil usaha;
o. ketentuan mengenai
pembubaran, penyelesaian, dan
hapusnya status
badan
hukum;dan
p.
sanksi.
15. Hasil pelaksanaan Rapat Anggota pembentukan koperasi dibuat dalam :
a. berita acara rapat pendirian koperasi; atau
b.
notulen rapat pendirian
Koperasi.
PENGESAHAN
AKTA PENDIRIAN KOPERASI
1. Para pendiri
koperasi atau
kuasanya
mempersiapkan
akta
pendirian
koperasi untuk diajukan
kepada Notaris.
2. Dalam penyusunan akta pendirian koperasi, para pendiri atau kuasanya
dapat
berkonsultasi dengan ahli perkoperasian yang didampingi oleh Notaris.
3. Para pendiri koperasi atau kuasanya mengajukan permohonan pengesahan akta pendirian koperasi
secara tertulis kepada
Pejabat yang berwenang melalui
Notaris.
4. Permohonan pengesahan Akta pendirian koperasi
diajukan kepada
Menteri dengan
melampirkan dokumen berupa:
a. surat keterangan persetujuan penggunaan
nama koperasi
dari Pejabat;
b. 2 (dua)
rangkap akta pendirian
koperasi, 1 (satu) diantaranya
bermaterai cukup;
c. surat kuasa pendiri;
d. notulen
rapat pembentukan
koperasi;
e. berita acara rapat Pembentukan Koperasi;
f. akta pendirian koperasi yang dibuat dan ditandatangani oleh
Notaris;
g. surat bukti jumlah setoran
simpanan pokok dan simpanan wajib sebagai modal awal;
h. surat keterangan domisili;
i. rencana kegiatan
usaha koperasi
minimal 3 (tiga) tahun ke depan
dan
Rencana
Anggaran Belanja dan
Pendapatan Koperasi; dan
j. Surat permohonan Izin Usaha Simpan Pinjam/Unit Usaha Simpan Pinjam, bagi Koperasi
Simpan Pinjam atau Koperasi
jenis lain yang memiliki unit simpan pinjam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar